Tuesday, August 30, 2016

Analisis Tindak Bullying dan Ketergantungan pada Film Stand By Me Doraemon

Judul Film                            : Stand By Me Doraemon
Tahun Rilis                           : 2014
Pengarang                            : Fujiko F. Fujio
Sutradara                             : Takashi Yamazaki dan Ryūichi Yagi
Perusahaan Produksi           : Fujiko Movie Studio
Distributor                           : Walt Disney International Japan

1         Sinopsis

Di sebuah daerah di Tokyo hiduplah seorang anak SD yang bernama Nobita. Nobita merupakan seorang anak yang pemalas, pelupa, kurang pintar, tidak percaya diri, dan kurang pemberani. Kemudian suatu saat munculah Sewashi bersama robot kucingnya yang bernama Doraemon dari abad 22 datang kepada Nobita. Sewashi menceritakan bahwa dia merupakan keturunan keempat dari Nobita. Dia menjelaskan tentang kesusahan dan kegagalan dalam hidup yang akan dialami Nobita setelah dewasa. Untuk itulah Sewashi datang ke masa Nobita agar  Nobita yang merupakan eyang buyutnya itu mampu merubah nasib menjadi lebih baik. Sewashi kemudian kembali kemasa depan dan memaksa Doraemon untuk menjaga dan membantu Nobita dan tidak boleh kembali sebelum bisa membahagiakan Nobita. Meskipun pada awalnya Doraemon tidak mau melakukannya karena melihat Nobita adalah anak yang kurang cakap dalam segala hal.
Akhirnya Doraemon tinggal di keluarga Nobita. Dengan menggunakan alat-alat canggih yang dikeluarkan dari kantong empat dimensi atau kantong ajaib milik Doraemon, Nobita banyak terbantu dalam segala hal pada kesehariannya. Nobita pun semakin tergantung kepada Doraemon. Sebagai contoh Nobita menjadi tidak pernah terlambat, nilai hariannya bagus, selalu cakap dalam olah raga, menjadi lebih berani, dan lain-lain. Doraemon dan Nobita menjadi semakin akrab. Tetapi keinginan terbesar dari Nobita adalah ingin menikah dengan Shizuka teman sekolahnya. Tetapi Shizuka terlihat lebih dekat kepada Dekisugi temannya. Nobita kemudian menggunakan berbagai alat dari Doraemon untuk mendekatkannya dengan Shizuka tetapi tetap saja tidak berhasil. Nobita akhirnya putus asa dan ingin melupakan Shizuka karena terasa sakit hatinya ketika ada Shizuka. Hal ini karena dia benar-benar menyukai Shizuka. Nobita berusaha agar dia dimusuhi dan dijauhi oleh Shizuka. Tetapi malah sebaliknya dari situ masa depan Nobita seakan diperbaharui. Shizuka malah jadi suka terhadap Nobita. Suatu saat Shizuka kembali lagi dekat dengan Dekisugi. Nobita kembali lagi putus asa. Tetapi Akhirnya dengan alat Doraemon, Nobita mencoba untuk pergi kemasa depan saat dirinya sudah dewasa. Nobita juga merubah dirinya menjadi dewasa dengan alat dari Doraemon.
Di masa depan Nobita berusaha sendirian menyelamatkan Shizuka yang sedang tersesat sendirian saat terjadi badai salju dalam pendakian di gunung.  Tetapi mereka berdua malah kembali tersesat di dalam badai salju. Karena usaha keras Nobita menyelamatkannya, Shizuka pun setuju dan mau menikah dengan Nobita. Akhirnya mereka diselamatkan oleh Nobita dewasa yang teringat kembali saat kejadian tersebut.  Nobita kecil kembali ke masanya dan bahagia mengetahui masa depannya telah berubah dan akan menikah dengan Shizuka.
Akhirnya tugas Doraemon selesai dan harus kembali kemasa depan meninggalkan Nobita. Doraemon sendiri sebenarnya sudah akrab dan tidak ingin meninggalkan Nobita meskipun dia tahu Nobita kurang cakap dalam segala hal. Malam sebelum Doraemon kembali, Nobita ingin menunjukkan jika dia bisa melakukan semuanya sendiri tanpa Doraemon. Nobita diancam Giant untuk mau makan spageti dengan hidungnya atau memilih bertarung dengannya. Nobita memilih untuk bertarung dengan Giant. Nobita mencoba untuk terus bangkit meskipun terus dipukul dan dihajar oleh Giant. Giant yang juga kelelahan memukul agak merasa iba terhadap Nobita akhirnya mengakui kemenangan Nobita dan akhirnya minta maaf.
Akhirnya Doraemon kembali ke masa depan dan meninggalkan cairan pembohong kepada Nobita. Dengan meminum cairan itu membuat apa yang dikatakan akan menjadi kebohongan dan kebohongan itu akan benar-benar terjadi. Cairan itu digunakan Nobita untuk membalas kebohongan Giant dan Suneo. Tetapi Nobita juga mengucapkan jika Doraemon tidak akan kembali saat ditanya ibunya tentang keberadaan Doraemon. Karena hal itu, Doraemon menjadi benar-benar kembali. Akhirnya  Doraemon pun tinggal bersama lagi dengan Nobita.

2         Teori dan Analisis

2.1            Bullying

Ken Rigby dalam Astuti (Astuti 2008, 3), mendefinisikan bullying sebagai sebuah hasrat untuk menyakiti. Hasrat ini diperlihatkan ke dalam aksi, menyebabkan seseorang menderita. Aksi ini dilakukan secara langsung oeh seseorang atau kelompok yang lebih kuat, tidak bertanggung jawab, biasanya berulang dan dilakukan dengan perasaan senang.
Menurut Olweus dalam Arie Nugraha (Nugraha 2012), terdapat dua jenis pelaku bullying. Pertama yaitu pelaku utama yang merasa memiliki kekuasaan lebih dan berinisiatif melakukan tindakan kekerasan atau bullying baik secara fisik maupun psikologis terhadap korban. Kedua, yaitu pelaku pengikut, pihak yang ikut terlibat melakukan tindakan bullying berdasarkan solidaritas kelompok, rasa setia kawan, tuntutan kelompok, untuk mendapatkan pengakuan kelompok.
Para pelaku bullying atau bully mempersepsikan dirinya memiliki power (kekuasaan) untuk dapat bertindak apa saja terhadap korbannya. Korban mempersepsikan dirinya sebagai pihak yang lemah, tidak berdaya dan selalu merasa terancam oleh bully (Ariesto 2009).

2.1.1       Perilaku Bullying

School bullying merupakan salah satu tindak bullying yang dilakukan antar siswa dan terjadi di sekolah. Menurut Riauskina, Djuwita dan Soesetio dalam Ariesto (Ariesto 2009), mendefinisikan school bullying sebagai sebuah perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang atau kelompok siswa yang memiliki kekuasaan terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut. Kemudian mereka mengelompokkan perilaku bullying dalam 5 kategori :
1.      Kontak fisik langsung (memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain).
2.      Kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gossip).
3.      Perilaku non-verbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek atau mengancam, biasanya disertai oleh bullying fisik atau verbal).
4.      Perilaku non-verbal tidak langsung (mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng).
5.      Pelecehan seksual (kadang dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal).
Menurut penjelasan tersebut diatas, pada film Stand By Me Doraemon penulis menyimpulkan bahwa terdapat beberapa perilaku school bullying dalam adegan film tersebut. Perilaku ini terjadi tidak hanya di dalam sekolah, namun juga di luar sekolah dan korbannya selalu sama yaitu Nobi Nobita. Perilaku yang sering dilakukan adalah kontak fisik langsung, kontak verbal langsung dan perilaku non-verbal langsung. Pelaku bullying terdiri dari tokoh Takeshi Goda atau biasa disebut Giant sebagai pelaku utama bullying dalam film dan tokoh Suneo Honekawa atau Suneo sebagai pelaku pengikut bullying.

1.      1. Kontak Fisik Langsung
Perilaku ini lebih sering dilakukan oleh pelaku utama bullying yaitu Giant. Perilaku ini sering terjadi karena adanya ketidakseimbangan kekuatan yang sangat menonjol antara pelaku dan korban bullying. Giant merasa dirinya memiliki kekuasaan yang dapat bertindak semaunya terhadap Nobita yang mempersepsikan dirinya lebih lemah daripada Giant. Dari segi fisik pun secara gamblang terlihat bahwa postur tubuh Giant lebih besar daripada Nobita.
Kontak fisik terjadi di beberapa adegan. Pertama, pada saat Nobita di hukum di depan kelas, kemudian Giant mengajaknya bermain baseball, namun Nobita beralasan tidak dapat menyanggupi ajakannya. Giant yang kesal langsung menarik telinga Nobita.
Kontak fisik memukul kembali terjadi ketika Nobita mendapatkan nilai lebih bagus daripada Giant. Giant merasa kesal dan memukul kepalanya. 
Kontak fisik memukul, menendang dan melempar juga dilakukan Giant terhadap Nobita, sehingga menyebabkan Nobita terluka dan babak belur. Adegan kekerasan ini dipicu karena Giant menagih tantangan yang diberikan pada Nobita. Selain itu juga adanya keinginan Nobita untuk dapat melawan Giant sebagai pembuktian bahwa dia tidak lemah dan mampu melawan Giant tanpa bantuan Doraemon.
2.      . Kontak Verbal Langsung
Perilaku seperti mengancam, memberi nama panggilan juga dilakukan oleh Giant sebagai tindakan yang sudah biasa dia lakukan pada Nobita. Perilaku mengancam terjadi ketika Giant menagih tantangannya terhadap Nobita. Terdapat pada tuturan berikut :
Giant : さ、決めたのか。鼻でスパゲティを食べるかおれ様になぐられるか。
            “Sa, kimetanoka. Hanade supagetiwo taberuka oresamani nagurareruka.”
Sudah kamu putuskan? Mau makan spageti lewat hidung atau aku pukul?

Perilaku bertutur kasar dengan memberi nama panggilan juga dilakukan Giant saat sedang berkelahi dengan Nobita. Giant yang merasa sudah tidak ingin berkelahi dengan Nobita, ditahan oleh Nobita yang tidak ingin menyerah melawan Giant. Giant kesal dan mengumpat.
Giant : このやろ!はなしやがれ!!
            “Konoyaro! Hanashiyagare!!
            Brengsek, lepaskan aku!
Suneo juga sering mengejek Nobita. Hal ini terjadi karena ketikseimbangan dalam hal ekonomi dimana Suneo adalah seorang anak dari keluarga yang lebih kaya dari keluarga Nobita. Selain itu karena pengaruh pergaulan, Suneo sering bersekongkol dengan Giant untuk membully Nobita. Oleh karena itu, Suneo berperan sebagai pelaku pengikut bullying.
3.    Perilaku Non-Verbal Langsung
Perilaku non-verbal langsung ini meliputi ejekan, muka sinis yang kemudian diikuti dengan kontak fisik langsung.

2.1.2       Karakteristik Bullying

Menurut Ken Rigby dalam Astuti (Astuti 2008, 8) bullying yang banyak dilakukan di sekolah memiliki 3 karakteristik yang terintegrasi yaitu :
a.       Ada perilaku agresi yang menyenangkan pelaku untuk menyakiti korbannya.
b.      Tindakan itu dilakukan secara tidak seimbang sehingga menimbulkan perasaan tertekan korban.
c.       Perilaku itu dilakukan secara berulang atau terus-menerus.
Selain itu, penyebab bullying juga disebabkan karena adanya faktor dalam keluarga. Keluarga sangat berperan penting dalam mendidik karakter anak. Cara mendidik anak yang keras dengan memberikan hukuman atau agresi dapat menyebabkan anak melakukan perilaku yang sama seperti perilaku orang tuanya. Hal ini terjadi pada Giant dimana Giant selalu mendapat hukuman jika tidak patuh kepada orang tuanya terutama ibunya. Giant sering dipukul atau dimarahi jika melakukan kesalahan atau tidak patuh. Dan ibunya adalah satu-satunya orang yang ditakuti Giant di luar lingkungan sekolah. 

2.1.3       Pengaruh dan Dampak Bullying pada Anak

 Astuti menjelaskan bahwa bullying adalah bagian dari perilaku agresif anak yang dilakukan secara berulang terhadap temannya atau sesama siswa hingga menyebabkan adanya korban (Astuti 2008, 10). Elliot dalam Astuti menjelaskan bahwa kegagalan untuk mengatasi tindakan bullying dapat menyebabkan tindakan agresi yang lebih jauh (Astuti 2008, 10). Tentu saja hal ini berpengaruh negatif terhadap perkembangan karakter anak.
Akibat dari bullying ini dijelaskan dalam Astuti (Astuti 2008, 11), tindak bullying dapat menimbulkan perasaan tertekan pada diri korban karena pelaku menguasai korban. Kondisi ini menyebabkan korban mengalami kesakitan fisik dan psikologis, kepercayaan diri (self-esteem) yang merosot, malu, trauma, tak mampu menyerang balik, merasa sendiri, serba salah dan takut sekolah (school phobia), dimana dia merasa tak ada yang menolong.
Namun, dalam kasus Nobita sebagai korban akibat-akibat yang dijelaskan tersebut tidak sepenuhnya berpengaruh negatif pada psikologisnya. Nobita mungkin merasa kepercayaan dirinya berkurang, namun dia tidak memiliki rasa takut pergi ke sekolah, dia masih bersekolah seperti biasa. Sedangkan perasaan sendiri, tak ada yang menolong itu pun sirna setelah kedatangan Doraemon, robot masa depan yang diciptakan untuk menolong Nobita.
Dengan adanya Doraemon, Nobita merasa tertolong, lebih berani, percaya dirinya bertambah dan dapat menyerang balik tanpa rasa takut. Namun, hal ini justru menyebabkan karakter baru padanya yaitu “ketergantungan”. Nobita merasa bergantung pada Doraemon untuk mengatasi tindak bullying yang dilakukan Giant dan Suneo. Dia merasa bisa menyerang balik perilaku Giant karena adanya Doraemon. Namun, karakter baru pun terbentuk yaitu “pembuktian”. Nobita membuktikan pada Doraemon bahwa dia pun bisa menang melawan Giant tanpa bantuan Doraemon (lihat gambar 7). Hal ini membuktikan bahwa bullying tidak sepenuhnya berpengaruh negatif pada perkembangan karakter anak terutama korban.

2.2            Ketergantungan

Dalam menganalisa film “Stand By Me Doraemon” digunakan teori rasa ketergantungan Four Wishes (Sense of Depend) yang dikemukakan oleh Thomas dan teori tentang tahap-tahap adiksi atau ketergantungan oleh Trashman.

2.2.1       Teori Sense of Depend Thomas

Dalam menganalisa film Stand By Me Doraemon ini pertama digunakan teori rasa ketergantungan (Sense of Depend) yang dikemukakan oleh Thomas. Menurut Thomas dalam Jalaluddin manusia yang dilahirkan didunia ini memiliki empat keinginan atau “four wishes” yang menyebabkan manusia semenjak lahir sudah hidup dalam ketergantungan. (Jalaluddin, Haji; 2012; Pengertian Teori Rasa Ketergantungan Sense of Depend; http://www.pengertianpengertian.com/2014/10/pengertian-teori-rasa-ketergantungan.html; diakses pada tanggal 20 Juni 2016)
Empat jenis keinginan atau four wishes tersebut yaitu :
1.      Keinginan untuk mendapatkan perlindungan (security)
2.      Keinginan akan  pengalaman baru (new experience)
3.      Keinginan untuk mendapatkan respon (response)
4.      Keinginan untuk dikenal (recognation)
Dalam film Stand By Me Doraemon, digambarkan jika Nobita sebagai seorang anak SD memiliki keempat keinginan (four wishes) tersebut. Keinginan-keinginan Nobita tersebut dapa dijelaskan dalam uraian berikut.

2.2.1.1      Keinginan untuk mendapatkan perlindungan (security)

Adegan dalam film yang menunjukkan adanya keinginan tersebut pada diri Nobita yaitu :
Ketika Nobita diancam Giant untuk makan spageti lewat hidung atau dipukul olehnya. Nobita kemudian mencari Doraemon untuk membantunya. 
Nobita : ドラえもん!ねえ、ねえ。鼻でスパゲティを食べる道具出して!できないとジャイアンにボコボコにされちゃうんだよ。
Doraemon : できない約束なら最初からするな!!
Nobita : “Doraemon! Ne, ne. Hanade supagetiwo taberu dōgu dashite! Dekinaito giant ni bokobokoni sarechaundayo!
                 Doraemon ! cepat keluarkan alat untuk makan spageti lewat hidung! Kalau tidak, aku bisa dipukul oleh Giant!
Doraemon : “Dekinai yakusokunara saishokara suruna!!
                 Jangan membuat janji yang tidak bisa kau tepati!!
Hasil analisa
Dalam konteks tersebut, Nobita merasa terancam jika tidak mau memenuhi keinginan Giant. Nobita pun akhirnya mencari Doraemon karena Nobita berpikir bahwa Doraemon bisa melindungi dari hal yang mengancamnya dengan menggunakan alat canggih yang dimiliki.

2.2.1.2      Keinginan akan pengalaman baru (new experience)

Adegan dalam film yang menunjukkan adanya keinginan tersebut pada diri Nobita yaitu :
a.  Doraemon mengeluarkan sebuah alat yang diberi nama “Terowongan Gulliver”. Dengan masuk ke dalam terowongan itu, tubuh Nobita bersama teman-temannya yaitu Shizuka, Suneo dan Giant mengecil dan membuat mereka bisa bermain dan menaiki mobil-mobilan milik Suneo.
b.  Doraemon mengeluarkan alat “Rumah Pohon Bawah Tanah” sehingga Nobita bersama teman-temannya bisa bermain sepuasnya di bawah tanah.
c.    Doraemon mengeluarkan alat “spray awan”. Dengan menyemprotkan alat itu ke awan, Nobita dan teman-temannya bisa bermain diatas awan tanpa takut jatuh.
Hasil analisa
Dari ketiga contoh diatas memperlihatkan jika Nobita bersama teman-temanya memiliki keinginan akan pengalaman baru yang tidak biasa mereka lakukan. Sebagai anak-anak SD mereka mempunyai imajinasi atau keinginan yang luas. Dengan adanya alat yang dikeluarkan Doraemon membuat keinginan akan imajinasi mereka terpenuhi.

2.2.1.3      Keinginan untuk mendapatkan respon (response)

Adegan dalam film yang menunjukkan adanya keinginan tersebut pada diri Nobita yaitu :
Saat Shizuka yang disukai Nobita didekati oleh Dekisugi, Nobita sangat kesal dan meminta bantuan  kepada Doraemon. Doraemon memberikan alat bernama “Tsurikomi Tamago”. Jika Shizuka masuk kedalam alat tersebut maka pada saat alat itu terbuka kembali akan membuat Shizuka akan terpikat oleh orang yang dilihatnya pertama kali. Meskipun Shizuka telah terperangkap, pada akhirnya Nobita gagal mendapatkan perhatian dari Shizuka, justru Shizuka menjadi semakin dekat dengan Dekisugi.
Hasil analisa
Dalam konteks tersebut dapat diketahui jika Nobita berusaha mendapatkan respon yang baik dari Shizuka yaitu agar Shizuka mau memperhatikan dan menyukainya.

2.2.1.14     Keinginan untuk dikenal (recognation)

Adegan dalam film yang menunjukkan adanya keinginan tersebut pada diri Nobita yaitu :
Nobita pergi ke masa depan dan berusaha menolong Shizuka yang sedang terperangkap di badai salju sendirian. Nobita menyelamatkan Shizuka sendirian tanpa bantuan dari Doraemon. Nobita kemudian berusaha menyelamatkan Shizuka dengan membawanya ke dalam gua. Dalam gua tersebut, Nobita berusaha menyalakan kayu bakar dan menyelimuti Shizuka yang kedinginan. Nobita juga menggendong Shizuka keluar dari gua untuk menemukan jalan keluar. 
Hasil analisa
Dari konteks tersebut dapat diketahui jika Nobita mempunyai keinginan untuk dikenal. Dalam konteks ini Nobita sebagai seorang individu memiliki keinginan dikenal sebagai orang yang pekerja keras, pengertian dan penolong oleh orang yang dicintainya yaitu Shizuka. Nobita yang selama ini dikenal sebagai anak yang kurang cakap dalam segala hal berusaha untuk membuktikan kepada Shizuka jika dia bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan Doraemon.

2.2.2       Tahap-tahap Adiksi atau Ketergantungan Menurut Trashman

Menurut Trashman (dalam Sherly 2015) tahap-tahap adiksi terdiri dari tiga tahap yaitu  :
1.    Tahap Perubahan Internal
Tahap ini individu menyadari perubahan mood ketika individu tersebut terlibat dengan sumber adiksi. Dalam tahap ini individu mulai merasa kecanduan dengan sumber adiksi. Individu akan merasa kecanduan dengan sumber adiksi ketika merasakan stress.
2.    Tahap Perubahan Gaya Hidup
Dalam tahap ini individu membangun kehidupan disekitar sumber adiksi. Individu akan berupaya mengatur kehidupannya di sekitar sumber adiksi. Ketika individu tidak berhubungan langsung dengan sumber adiksi, maka individu akan terus memikirkannya.
3.    Tahap Rusaknya Kehidupan
Pada tahap ini, individu menganggap semua yang dilakukan benar menurut dirinya. Individu menjadi sulit mengendalikan perasaanya dan sangat sulit berdiskusi mengenai masalah dalam kehidupannya.
Sifat-sifat alami Nobita sebelum datangnya Doraemon yang ditunjukkan dalam film “Stand By Me Doraemon” diantaranya:
a.       Sering terlambat saat masuk sekolah dan mendapat hukuman guru.
b.      Kurang cakap saat bermain olahraga.
c.       Kurang cakap dalam pembelajaran di sekolah.
d.      Nilai-nilai ujian di sekolah tidak bagus.
e.       Sering ceroboh dalam melakukan sesuatu.
f.       Sering diejek dan diremehkan oleh teman-temannya.
Dalam film “Stand By Me Doraemon” pemeran Nobita mengalami semua tahapan untuk mencapai adiksi sesuai teori dari Trashman.
1.    Tahap Perubahan Internal
Tahap pertama ditandai pada saat kejadian:
a.       Saat awal bertemu dengan Nobita, Doraemon mengeluarkan “baling-baling bambu” untuk Nobita. Meskipun pada awalnya sempat kesusahan tetapi akhirnya Nobita bisa menggunakan alat itu. Dengan baling-baling bamboo, Nobita terbang dan bermain bebas di langit Tokyo pada malam hari sampai melihat Sizuka yang sedang tertidur di rumahnya.
b.       Pada saat Nobita terlambat pergi ke sekolah, Doraemon mengeluarkan alat “pintu kemana saja” sehingga dapat membantu Nobita. Dari depan rumahnya Nobita bisa langsung sampai ke gedung sekolah tanpa terlambat.
c.       Doraemon memberikan roti yang bernama “Anki Pan”. Dengan memakan roti tersebut, Nobita menjadi mudah mengingat semua materi dan dapat  menyelesaikan ujian di sekolah.
Hasil analisa
Pada tahap pertama ditandai dengan Nobita yang merasakan ada bantuan yang datang dari Doraemon pada saat mengalami kesulitan. Doraemon selalu membantu Nobita yang sedang kesusahan pada hari-hari saat pertama mereka berkenalan. Dari kejadian itu Nobita mulai menyadari adanya sosok yang dapat dia andalkan saat sedang mengalami masalah. Dari data tersebut Nobita sebagai seorang individu mulai menyadari adanya perubahan mood ketika individu tersebut terlibat dengan sumber adiksi yaitu Doraemon. Nobita merasa ada yang berbeda dalam hidupnya setelah kedatangan Doraemon.
2.     Tahap Perubahan Gaya Hidup
Tahap kedua ditandai pada saat kejadian:
a.       Nobita memecahkan vas bunga di kelas kemudian dilaporkan oleh Suneo temannya. Nobita kemudian merengek dan memanggil Doraemon. Doraemon kemudian memberikan “sapu tangan waktu”. Dengan di tutup dengan sapu tangan tersebut, vas bunga yang pecah dapat kembali lagi menjadi vas bunga yang utuh.
b.       Nobita dijahili dan dipukul oleh Giant teman sekelasnya. Nobita tidak bisa membalas dan meminta pertolongan kepada Doraemon. Doraemon pun memberikan “mantel tak terlihat” kepada Nobita. Setelah Nobita memakainya dia menjadi tidak terlihat siapapun. Dengan mantel itu Nobita bisa membalas memukul Giant tanpa diketahui.
c. Saat disuruh membersihkan rumah dan mencabuti rumput di halaman, Doraemon memberikan sebuah alat yang dinamakan “speedwinder”. Dengan alat itu, kecepatan Nobita dalam membersihkan rumah dan mencabuti rumput di halaman menjadi sangat cepat. Pekerjaanya pun menjadi cepat selesai.
Hasil analisa
            Dalam tahap ini ditandai dengan kehidupan Nobita yang tidak bisa lepas dari Doraemon. Nobita yang sebenarnya menyadari merupakan anak yang tidak cakap dalam segala hal sangat senang dengan bantuan yang datang dari Doraemon. Saat mengalami kesusahan Nobita selalu memanggil dan merengek kepada Doraemon untuk membantu memecahkan berbagai masalahnya. Dengan adanya Doraemon yang merupakan sosok canggih masa depan dan mampu melakukan apa saja membuat Nobita tidak bisa melepaskan Doraemon dari kehidupannya. Dari data tersebut dapat disimpulkan terjadi danya perubahan gaya hidup dari Nobita. Sebagai contoh Nobita yang biasanya sering terlambat, sering mendapat nilai jelek, sering dinakali temannya, dan lain-lain mulai bisa berubah berkat bantuan dari Doraemon. Dalam tahap ini Nobita sebagai seorang individu mulai membangun kehidupan disekitar sumber adiksi dan  mengatur kehidupannya di sekitar sumber adiksi. Nobita mulai tergantung terhadap sumber adiksi yaitu Doraemon.
3.      Tahap Rusaknya Kehidupan
Tahap ketiga ditandai pada saat kejadian:
Pada saat Nobita akan ditinggalkan oleh Doraemon ke masa depan. Nobita tidak mau berpisah dengan Doraemon dan merasa hidupnya tidak berguna lagi. Hingga Doraemon pun memberi semangat kepada Nobita agar dia bisa lepas dari ketergantungannya selama ini. Akhirnya Doraemon kembali ke masa depan meninggalkan Nobita untuk selamanya. Nobita tidak bisa menghilangkan ingatanya dan terus memikirkan Doraemon. Sampai suatu ketika dia dibohongi oleh Giant jika Doraemon datang lagi, Nobita sangat senang meski pada akhirnya dia tahu jika ia telah dibohongi. Nobita sangat sedih dan menangis di kamar. Nobita ingin membalas ulah Giant meskipun tidak bisa. Nobita merasa hidupnya tidak memiliki apa-apa lagi. 
Hasil analisa
Pada tahap ini ditandai dengan individu sulit mengendalikan perasaannya. Dalam konteks tersebut Doraemon sebagai sumber ketergantungan harus kembali ke masa depan dan meninggalkan Nobita. Nobita sebagai seorang individu sulit untuk mengendalikan perasaanya. Dia benar-benar sedih sekaligus marah saat dibohongi Giant jika Doraemon datang kembali. Karena ketergantungan yang begitu dalam akan Doraemon membuat Nobita begitu sedih sampai akhirnya menangis dan ingin membalas ulah Giant yang telah membohonginya.
Pada penjelasan mengenai ketergantungan ini ada adegan yang menunjukkan adanya pembuktian yaitu ketika Nobita ingin membuktikan pada Doraemon bahwa dia sanggup hidup tanpa bergantung pada Doraemon. Pembuktian itu dilakukan dengan cara berkelahi melawan Giant di lapangan. Dia berkelahi hingga Giant mengakui kalau Nobita sudah menang melawannya.
Nobita : 僕の力だけの勝たないと、ドラえもんが安心して帰れないんだ!!
            “Bokuno chikaradakeno katanaito, Doraemon ga anshinshite… kaerenainda!!
            Doraemon tidak akan merasa tenang jika aku tidak bisa mengalahkanmu dengan kekuatanku sendiri!!

3        Kesimpulan

Secara umum, bullying dapat diartikan sebagai tindak kekerasan sebagai wujud perilaku agresi yang disebabkan oleh penyimpangan psikologis dan bertujuan untuk menyudutkan objek penderitanya secara emosional maupun fisik.
Ada dua jenis pelaku bullying yang terdapat dalam film Stand By Me Doraemon, yaitu Giant sebagai pelaku utama bullying dan Suneo sebagai pelaku pengikut bullying. Korbannya selalu sama yaitu Nobita.
Perilaku bullying yang terdapat dalam film stand By Me Doraemon dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1.      Kontak fisik langsung, meliputi tindakan memukul, menendang, melempar yang dilakukan oleh Giant.
2.      Kontak verbal langsung, meliputi tindakan mengancam, membuat nama panggilan, menyebar kebohongan yang menyebabkan kesakitan secara fisik maupun emosional.
3.      Kontak non-verbal langsung, meliputi tindakan melihat dengan muka sinis dan mengejek.
Karakteristik bullying yang dominan terjadi pada pelaku bullying yaitu Giant dan Suneo adalah karena faktor keluarga. Orang tua Giant yang sering memberi hukuman dengan kekerasan pada Giant membuat dia melakukan hal yang sama seperti perilaku orang tuanya dan dilakukan terhadap temannya sendiri. Suneo memiliki latar belakang ekonomi yang lebih kuat daripada Nobita, sehingga dia mampu bersikap seenaknya dengan mengejek Nobita.

Bullying tidak selalu berdampak negatif terhadap perkembangan karakter korban bully. Nobita yang selalu menjadi objek penderita dalam film tersebut, ternyata dapat mengatasi masalah bullying itu tanpa ada rasa takut pergi ke sekolah, tanpa rasa trauma. Nobita merasa percaya dirinya bertambah setelah kedatangan Doraemon. Namun, justru karnanya dia merasa bergantung pada Doraemon.
Ketergantungan menurut Thomas disebabkan karena 4 keingingan “four wishes” :
a.       Keinginan untuk mendapatkan perlindungan (security)
b.      Keinginan akan  pengalaman baru (new experience)
c.       Keinginan untuk mendapatkan respon (response)
d.      Keinginan untuk dikenal (recognation)
Tahap-tahap ketergantungan menurut Trashman antara lain :
1.      Tahap perubahan internal
2.      Tahap perubahan gaya hidup
3.      Tahap rusaknya kehidupan
Dari dua hal di atas mengenai empat keinginan dan tahap-tahap ketergantungan, kesemuanya selalu berhubungan dengan Doraemon. Nobita tidak dapat lepas dari Doraemon. Bahkan saat Doraemon telah menyelesaikan misinya membuat Nobita bahagia dan dia harus kembali ke masa depan, Nobita merasa sangat sedih. Namun, Nobita menyadari bahwa dia tidak selamanya dapat bergantung pada orang lain, karena itu Nobita memutuskan untuk membuktikan kepada Doraemon bahwa dia bisa melawan Giant tanpa bantuan Doraemon.
Pembuktian yang dilakukan Nobita ini mengindikasikan bahwa perilaku bullying yang dilakukan orang lain dan ketergantungan dalam diri sendiri dapat diatasi oleh keinginan kuat dalam diri sendiri untuk melawan, sehingga akan diperoleh karakter baru bahwa seseorang yang lemah dapat menjadi kuat karena adanya tekad yang kuat untuk berubah.

Daftar Pustaka

Ariesto, Asdrian. Pelaksanaan Program Antibullying Teacher Empowerment. Thesis, Jakarta: Universitas Indonesia, 2009.
Astuti, Ponny Retno. Meredam Bullying (3 Cara Efektif Mengatasi Kekerasan pada Anak). Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 2008.
Jalaluddin, Haji. Pengertian Teori Rasa Ketergantungan (Sense of Depend). Oktober 2014. http://www.pengertianpengertian.com (diakses 17 Juni, 2016).
Nugraha, Arie. Representasi Bullying Dalam Serial Film Kartun Doraemon. Thesis, Jakarta: Universitas Indonesia, 2012.
Priyatna, Andri. Let's End Bullying : Memahami, Mencegah & Mengatasi Bullying. Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2010.
Psychologymania. Definisi Bullying. Juni 2012. http://www.psychologymania.com (diakses 21 Juni, 2016).
Sari, Serrly Purnama. Pengaruh Kesepian Terhadap Penggunaan Internet yang Berlebihan. Juli September 2015. http://psychology.binus.ac.id (diakses 19 Juni, 2016).







0 comments:

Post a Comment

Template by:

Free Blog Templates