Judul Film : Stand By Me
Doraemon
Tahun Rilis : 2014
Pengarang : Fujiko F. Fujio
Sutradara : Takashi Yamazaki
dan Ryūichi Yagi
Perusahaan Produksi : Fujiko Movie Studio
Distributor : Walt Disney International
Japan
1
Sinopsis
Di
sebuah daerah di Tokyo hiduplah seorang anak SD yang bernama Nobita. Nobita
merupakan seorang anak yang pemalas, pelupa, kurang pintar, tidak percaya diri,
dan kurang pemberani. Kemudian suatu saat munculah Sewashi bersama robot
kucingnya yang bernama Doraemon dari abad 22 datang kepada Nobita. Sewashi
menceritakan bahwa dia merupakan keturunan keempat dari Nobita. Dia menjelaskan
tentang kesusahan dan kegagalan dalam hidup yang akan dialami Nobita setelah
dewasa. Untuk itulah Sewashi datang ke masa Nobita agar Nobita yang merupakan eyang buyutnya itu mampu
merubah nasib menjadi lebih baik. Sewashi kemudian kembali kemasa depan dan
memaksa Doraemon untuk menjaga dan membantu Nobita dan tidak boleh kembali
sebelum bisa membahagiakan Nobita. Meskipun pada awalnya Doraemon tidak mau
melakukannya karena melihat Nobita adalah anak yang kurang cakap dalam segala
hal.
Akhirnya
Doraemon tinggal di keluarga Nobita. Dengan menggunakan alat-alat canggih yang
dikeluarkan dari kantong empat dimensi atau kantong ajaib milik Doraemon,
Nobita banyak terbantu dalam segala hal pada kesehariannya. Nobita pun semakin
tergantung kepada Doraemon. Sebagai contoh Nobita menjadi tidak pernah terlambat,
nilai hariannya bagus, selalu cakap dalam olah raga, menjadi lebih berani, dan
lain-lain. Doraemon dan Nobita menjadi semakin akrab. Tetapi keinginan terbesar
dari Nobita adalah ingin menikah dengan Shizuka teman sekolahnya. Tetapi
Shizuka terlihat lebih dekat kepada Dekisugi temannya. Nobita kemudian menggunakan
berbagai alat dari Doraemon untuk mendekatkannya dengan Shizuka tetapi tetap
saja tidak berhasil. Nobita akhirnya putus asa dan ingin melupakan Shizuka
karena terasa sakit hatinya ketika ada Shizuka. Hal ini karena dia benar-benar
menyukai Shizuka. Nobita berusaha agar dia dimusuhi dan dijauhi oleh Shizuka.
Tetapi malah sebaliknya dari situ masa depan Nobita seakan diperbaharui.
Shizuka malah jadi suka terhadap Nobita. Suatu saat Shizuka kembali lagi dekat
dengan Dekisugi. Nobita kembali lagi putus asa. Tetapi Akhirnya dengan alat
Doraemon, Nobita mencoba untuk pergi kemasa depan saat dirinya sudah dewasa.
Nobita juga merubah dirinya menjadi dewasa dengan alat dari Doraemon.
Di
masa depan Nobita berusaha sendirian menyelamatkan Shizuka yang sedang tersesat
sendirian saat terjadi badai salju dalam pendakian di gunung. Tetapi mereka berdua malah kembali tersesat
di dalam badai salju. Karena usaha keras Nobita menyelamatkannya, Shizuka pun
setuju dan mau menikah dengan Nobita. Akhirnya mereka diselamatkan oleh Nobita
dewasa yang teringat kembali saat kejadian tersebut. Nobita kecil kembali ke masanya dan bahagia
mengetahui masa depannya telah berubah dan akan menikah dengan Shizuka.
Akhirnya
tugas Doraemon selesai dan harus kembali kemasa depan meninggalkan Nobita.
Doraemon sendiri sebenarnya sudah akrab dan tidak ingin meninggalkan Nobita
meskipun dia tahu Nobita kurang cakap dalam segala hal. Malam sebelum Doraemon
kembali, Nobita ingin menunjukkan jika dia bisa melakukan semuanya sendiri
tanpa Doraemon. Nobita diancam Giant untuk mau makan spageti dengan hidungnya
atau memilih bertarung dengannya. Nobita memilih untuk bertarung dengan Giant.
Nobita mencoba untuk terus bangkit meskipun terus dipukul dan dihajar oleh
Giant. Giant yang juga kelelahan memukul agak merasa iba terhadap Nobita
akhirnya mengakui kemenangan Nobita dan akhirnya minta maaf.
Akhirnya
Doraemon kembali ke masa depan dan meninggalkan cairan pembohong kepada Nobita.
Dengan meminum cairan itu membuat apa yang dikatakan akan menjadi kebohongan
dan kebohongan itu akan benar-benar terjadi. Cairan itu digunakan Nobita untuk
membalas kebohongan Giant dan Suneo. Tetapi Nobita juga mengucapkan jika
Doraemon tidak akan kembali saat ditanya ibunya tentang keberadaan Doraemon.
Karena hal itu, Doraemon menjadi benar-benar kembali. Akhirnya Doraemon pun tinggal bersama lagi dengan
Nobita.
2 Teori dan
Analisis
2.1
Bullying
Ken
Rigby dalam Astuti (Astuti 2008, 3) , mendefinisikan bullying sebagai sebuah hasrat untuk menyakiti. Hasrat ini
diperlihatkan ke dalam aksi, menyebabkan seseorang menderita. Aksi ini
dilakukan secara langsung oeh seseorang atau kelompok yang lebih kuat, tidak
bertanggung jawab, biasanya berulang dan dilakukan dengan perasaan senang.
Menurut
Olweus dalam Arie Nugraha (Nugraha
2012) ,
terdapat dua jenis pelaku bullying. Pertama
yaitu pelaku utama yang merasa memiliki kekuasaan lebih dan berinisiatif
melakukan tindakan kekerasan atau bullying
baik secara fisik maupun psikologis terhadap korban. Kedua, yaitu pelaku
pengikut, pihak yang ikut terlibat melakukan tindakan bullying berdasarkan solidaritas kelompok, rasa setia kawan,
tuntutan kelompok, untuk mendapatkan pengakuan kelompok.
Para
pelaku bullying atau bully mempersepsikan dirinya memiliki power (kekuasaan) untuk dapat bertindak
apa saja terhadap korbannya. Korban mempersepsikan dirinya sebagai pihak yang
lemah, tidak berdaya dan selalu merasa terancam oleh bully (Ariesto
2009) .
2.1.1
Perilaku Bullying
School bullying
merupakan salah satu tindak bullying
yang dilakukan antar siswa dan terjadi di sekolah. Menurut Riauskina, Djuwita
dan Soesetio dalam Ariesto (Ariesto
2009) ,
mendefinisikan school bullying sebagai sebuah perilaku agresif
yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang atau kelompok siswa yang memiliki
kekuasaan terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti
orang tersebut. Kemudian mereka mengelompokkan perilaku bullying dalam 5 kategori :
1. Kontak
fisik langsung (memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci
seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak
barang-barang yang dimiliki orang lain).
2. Kontak
verbal langsung (mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi
panggilan nama (name-calling),
sarkasme, merendahkan (put-downs),
mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gossip).
3. Perilaku
non-verbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan
ekspresi muka yang merendahkan, mengejek atau mengancam, biasanya disertai oleh
bullying fisik atau verbal).
4. Perilaku
non-verbal tidak langsung (mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan
sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat
kaleng).
5. Pelecehan
seksual (kadang dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal).
Menurut penjelasan tersebut diatas, pada film Stand
By Me Doraemon penulis menyimpulkan bahwa terdapat beberapa perilaku school bullying dalam adegan film
tersebut. Perilaku ini terjadi tidak hanya di dalam sekolah, namun juga di luar
sekolah dan korbannya selalu sama yaitu Nobi Nobita. Perilaku yang sering
dilakukan adalah kontak fisik langsung, kontak verbal langsung dan perilaku
non-verbal langsung. Pelaku bullying
terdiri dari tokoh Takeshi Goda atau biasa disebut Giant sebagai pelaku utama bullying dalam film dan tokoh Suneo
Honekawa atau Suneo sebagai pelaku pengikut bullying.
1. 1. Kontak
Fisik Langsung
Perilaku
ini lebih sering dilakukan oleh pelaku utama bullying yaitu Giant. Perilaku ini sering terjadi karena adanya
ketidakseimbangan kekuatan yang sangat menonjol antara pelaku dan korban bullying. Giant merasa dirinya memiliki
kekuasaan yang dapat bertindak semaunya terhadap Nobita yang mempersepsikan
dirinya lebih lemah daripada Giant. Dari segi fisik pun secara gamblang
terlihat bahwa postur tubuh Giant lebih besar daripada Nobita.
Kontak
fisik terjadi di beberapa adegan. Pertama, pada saat Nobita di hukum di depan
kelas, kemudian Giant mengajaknya bermain baseball, namun Nobita beralasan
tidak dapat menyanggupi ajakannya. Giant yang kesal langsung menarik telinga
Nobita.
Kontak
fisik memukul kembali terjadi ketika Nobita mendapatkan nilai lebih bagus
daripada Giant. Giant merasa kesal dan memukul kepalanya.
Kontak
fisik memukul, menendang dan melempar juga dilakukan Giant terhadap Nobita,
sehingga menyebabkan Nobita terluka dan babak belur. Adegan kekerasan ini
dipicu karena Giant menagih tantangan yang diberikan pada Nobita. Selain itu
juga adanya keinginan Nobita untuk dapat melawan Giant sebagai pembuktian bahwa
dia tidak lemah dan mampu melawan Giant tanpa bantuan Doraemon.
2. . Kontak
Verbal Langsung
Perilaku
seperti mengancam, memberi nama panggilan juga dilakukan oleh Giant sebagai
tindakan yang sudah biasa dia lakukan pada Nobita. Perilaku mengancam terjadi
ketika Giant menagih tantangannya terhadap Nobita. Terdapat pada tuturan
berikut :
Giant : さ、決めたのか。鼻でスパゲティを食べるかおれ様になぐられるか。
“Sa,
kimetanoka. Hanade supagetiwo taberuka oresamani nagurareruka.”
Sudah
kamu putuskan? Mau makan spageti lewat hidung atau aku pukul?
Perilaku
bertutur kasar dengan memberi nama panggilan juga dilakukan Giant saat sedang
berkelahi dengan Nobita. Giant yang merasa sudah tidak ingin berkelahi dengan
Nobita, ditahan oleh Nobita yang tidak ingin menyerah melawan Giant. Giant
kesal dan mengumpat.
Giant
: このやろ!はなしやがれ!!
“Konoyaro!
Hanashiyagare!!”
Brengsek, lepaskan aku!
Suneo
juga sering mengejek Nobita. Hal ini terjadi karena ketikseimbangan dalam hal
ekonomi dimana Suneo adalah seorang anak dari keluarga yang lebih kaya dari keluarga
Nobita. Selain itu karena pengaruh pergaulan, Suneo sering bersekongkol dengan
Giant untuk membully Nobita. Oleh
karena itu, Suneo berperan sebagai pelaku pengikut bullying.
3. Perilaku
Non-Verbal Langsung
Perilaku non-verbal langsung ini meliputi ejekan,
muka sinis yang kemudian diikuti dengan kontak fisik langsung.
2.1.2 Karakteristik Bullying
Menurut
Ken Rigby dalam Astuti (Astuti 2008, 8) bullying
yang banyak dilakukan di sekolah memiliki 3 karakteristik yang terintegrasi
yaitu :
a. Ada
perilaku agresi yang menyenangkan pelaku untuk menyakiti korbannya.
b. Tindakan
itu dilakukan secara tidak seimbang sehingga menimbulkan perasaan tertekan
korban.
c. Perilaku
itu dilakukan secara berulang atau terus-menerus.
Selain
itu, penyebab bullying juga
disebabkan karena adanya faktor dalam keluarga. Keluarga sangat berperan
penting dalam mendidik karakter anak. Cara mendidik anak yang keras dengan
memberikan hukuman atau agresi dapat menyebabkan anak melakukan perilaku yang
sama seperti perilaku orang tuanya. Hal ini terjadi pada Giant dimana Giant
selalu mendapat hukuman jika tidak patuh kepada orang tuanya terutama ibunya. Giant
sering dipukul atau dimarahi jika melakukan kesalahan atau tidak patuh. Dan
ibunya adalah satu-satunya orang yang ditakuti Giant di luar lingkungan
sekolah.
2.1.3 Pengaruh dan
Dampak Bullying pada Anak
Astuti menjelaskan bahwa bullying adalah bagian dari perilaku agresif anak yang dilakukan
secara berulang terhadap temannya atau sesama siswa hingga menyebabkan adanya
korban (Astuti 2008, 10) . Elliot dalam Astuti menjelaskan bahwa
kegagalan untuk mengatasi tindakan bullying
dapat menyebabkan tindakan agresi yang lebih jauh (Astuti 2008, 10) . Tentu saja hal ini
berpengaruh negatif terhadap perkembangan karakter anak.
Akibat
dari bullying ini dijelaskan dalam
Astuti (Astuti 2008, 11) , tindak bullying dapat menimbulkan perasaan tertekan pada diri korban
karena pelaku menguasai korban. Kondisi ini menyebabkan korban mengalami kesakitan
fisik dan psikologis, kepercayaan diri (self-esteem)
yang merosot, malu, trauma, tak mampu menyerang balik, merasa sendiri, serba
salah dan takut sekolah (school phobia), dimana dia merasa tak ada yang
menolong.
Namun,
dalam kasus Nobita sebagai korban akibat-akibat yang dijelaskan tersebut tidak
sepenuhnya berpengaruh negatif pada psikologisnya. Nobita mungkin merasa
kepercayaan dirinya berkurang, namun dia tidak memiliki rasa takut pergi ke
sekolah, dia masih bersekolah seperti biasa. Sedangkan perasaan sendiri, tak
ada yang menolong itu pun sirna setelah kedatangan Doraemon, robot masa depan
yang diciptakan untuk menolong Nobita.
Dengan
adanya Doraemon, Nobita merasa tertolong, lebih berani, percaya dirinya
bertambah dan dapat menyerang balik tanpa rasa takut. Namun, hal ini justru
menyebabkan karakter baru padanya yaitu “ketergantungan”. Nobita merasa
bergantung pada Doraemon untuk mengatasi tindak bullying yang dilakukan Giant dan Suneo. Dia merasa bisa menyerang
balik perilaku Giant karena adanya Doraemon. Namun, karakter baru pun terbentuk
yaitu “pembuktian”. Nobita membuktikan pada Doraemon bahwa dia pun bisa menang
melawan Giant tanpa bantuan Doraemon (lihat gambar 7). Hal ini membuktikan
bahwa bullying tidak sepenuhnya
berpengaruh negatif pada perkembangan karakter anak terutama korban.
2.2 Ketergantungan
Dalam menganalisa film “Stand By Me
Doraemon” digunakan teori rasa ketergantungan Four Wishes (Sense of Depend)
yang dikemukakan oleh Thomas dan teori tentang tahap-tahap adiksi atau ketergantungan
oleh Trashman.
2.2.1
Teori Sense of Depend Thomas
Dalam
menganalisa film Stand By Me Doraemon ini pertama digunakan teori rasa
ketergantungan (Sense of Depend) yang
dikemukakan oleh Thomas. Menurut Thomas dalam Jalaluddin manusia yang
dilahirkan didunia ini memiliki empat keinginan atau “four wishes” yang menyebabkan manusia semenjak lahir sudah hidup
dalam ketergantungan. (Jalaluddin, Haji; 2012; Pengertian Teori Rasa
Ketergantungan Sense of Depend; http://www.pengertianpengertian.com/2014/10/pengertian-teori-rasa-ketergantungan.html;
diakses pada tanggal 20 Juni 2016)
Empat jenis keinginan atau four wishes tersebut yaitu :
1. Keinginan
untuk mendapatkan perlindungan (security)
2.
Keinginan akan pengalaman baru (new experience)
3.
Keinginan untuk mendapatkan respon (response)
4. Keinginan
untuk dikenal (recognation)
Dalam film Stand By Me Doraemon,
digambarkan jika Nobita sebagai seorang anak SD memiliki keempat keinginan (four wishes) tersebut. Keinginan-keinginan
Nobita tersebut dapa dijelaskan dalam uraian berikut.
2.2.1.1
Keinginan untuk
mendapatkan perlindungan (security)
Adegan dalam film yang menunjukkan
adanya keinginan tersebut pada diri Nobita yaitu :
Ketika Nobita diancam Giant untuk
makan spageti lewat hidung atau dipukul olehnya. Nobita kemudian mencari
Doraemon untuk membantunya.
Nobita : ドラえもん!ねえ、ねえ。鼻でスパゲティを食べる道具出して!できないとジャイアンにボコボコにされちゃうんだよ。
Doraemon : できない約束なら最初からするな!!
Nobita : “Doraemon! Ne, ne. Hanade supagetiwo taberu dōgu dashite! Dekinaito
giant ni bokobokoni sarechaundayo!”
Doraemon
! cepat keluarkan alat untuk makan spageti lewat hidung! Kalau tidak, aku bisa
dipukul oleh Giant!
Doraemon : “Dekinai yakusokunara saishokara suruna!!”
Jangan
membuat janji yang tidak bisa kau tepati!!
Hasil analisa
Dalam konteks tersebut, Nobita
merasa terancam jika tidak mau memenuhi keinginan Giant. Nobita pun akhirnya
mencari Doraemon karena Nobita berpikir bahwa Doraemon bisa melindungi dari hal
yang mengancamnya dengan menggunakan alat canggih yang dimiliki.
2.2.1.2 Keinginan akan pengalaman baru (new experience)
Adegan dalam film yang menunjukkan
adanya keinginan tersebut pada diri Nobita yaitu :
a. Doraemon
mengeluarkan sebuah alat yang diberi nama “Terowongan Gulliver”. Dengan masuk
ke dalam terowongan itu, tubuh Nobita bersama teman-temannya yaitu Shizuka,
Suneo dan Giant mengecil dan membuat mereka bisa bermain dan menaiki
mobil-mobilan milik Suneo.
b. Doraemon
mengeluarkan alat “Rumah Pohon Bawah Tanah” sehingga Nobita bersama
teman-temannya bisa bermain sepuasnya di bawah tanah.
c. Doraemon
mengeluarkan alat “spray awan”. Dengan menyemprotkan alat itu ke awan, Nobita
dan teman-temannya bisa bermain diatas awan tanpa takut jatuh.
Hasil analisa
Dari ketiga contoh diatas
memperlihatkan jika Nobita bersama teman-temanya memiliki keinginan akan pengalaman
baru yang tidak biasa mereka lakukan. Sebagai anak-anak SD mereka mempunyai
imajinasi atau keinginan yang luas. Dengan adanya alat yang dikeluarkan
Doraemon membuat keinginan akan imajinasi mereka terpenuhi.
2.2.1.3 Keinginan untuk mendapatkan respon (response)
Adegan dalam film yang menunjukkan
adanya keinginan tersebut pada diri Nobita yaitu :
Saat Shizuka yang disukai Nobita didekati
oleh Dekisugi, Nobita sangat kesal dan meminta bantuan kepada Doraemon. Doraemon memberikan alat
bernama “Tsurikomi Tamago”. Jika
Shizuka masuk kedalam alat tersebut maka pada saat alat itu terbuka kembali
akan membuat Shizuka akan terpikat oleh orang yang dilihatnya pertama kali.
Meskipun Shizuka telah terperangkap, pada akhirnya Nobita gagal mendapatkan perhatian
dari Shizuka, justru Shizuka menjadi semakin dekat dengan Dekisugi.
Hasil analisa
Dalam konteks tersebut dapat diketahui jika Nobita berusaha
mendapatkan respon yang baik dari Shizuka yaitu agar Shizuka mau memperhatikan
dan menyukainya.
2.2.1.14 Keinginan untuk dikenal (recognation)
Adegan dalam film yang menunjukkan
adanya keinginan tersebut pada diri Nobita yaitu :
Nobita pergi ke masa
depan dan berusaha menolong Shizuka yang sedang terperangkap di badai salju
sendirian. Nobita menyelamatkan Shizuka sendirian tanpa bantuan dari Doraemon.
Nobita kemudian berusaha menyelamatkan Shizuka dengan membawanya ke dalam gua.
Dalam gua tersebut, Nobita berusaha menyalakan kayu bakar dan menyelimuti
Shizuka yang kedinginan. Nobita juga menggendong Shizuka keluar dari gua untuk
menemukan jalan keluar.
Hasil analisa
Dari konteks
tersebut dapat diketahui jika Nobita mempunyai keinginan untuk dikenal. Dalam
konteks ini Nobita sebagai seorang individu memiliki keinginan dikenal sebagai
orang yang pekerja keras, pengertian dan penolong oleh orang yang dicintainya
yaitu Shizuka. Nobita yang selama ini dikenal sebagai anak yang kurang cakap
dalam segala hal berusaha untuk membuktikan kepada Shizuka jika dia bisa
melakukannya sendiri tanpa bantuan Doraemon.
2.2.2 Tahap-tahap Adiksi atau Ketergantungan Menurut
Trashman
Menurut Trashman (dalam Sherly
2015) tahap-tahap adiksi terdiri dari tiga tahap yaitu :
1. Tahap
Perubahan Internal
Tahap ini individu menyadari perubahan mood ketika individu tersebut terlibat
dengan sumber adiksi. Dalam tahap ini individu mulai merasa kecanduan dengan
sumber adiksi. Individu akan merasa kecanduan dengan sumber adiksi ketika
merasakan stress.
2. Tahap
Perubahan Gaya Hidup
Dalam tahap ini individu membangun kehidupan
disekitar sumber adiksi. Individu akan berupaya mengatur kehidupannya di
sekitar sumber adiksi. Ketika individu tidak berhubungan langsung dengan sumber
adiksi, maka individu akan terus memikirkannya.
3. Tahap
Rusaknya Kehidupan
Pada
tahap ini, individu menganggap semua yang dilakukan benar menurut dirinya.
Individu menjadi sulit mengendalikan perasaanya dan sangat sulit berdiskusi
mengenai masalah dalam kehidupannya.
Sifat-sifat alami Nobita sebelum
datangnya Doraemon yang ditunjukkan dalam film “Stand By Me Doraemon”
diantaranya:
a. Sering
terlambat saat masuk sekolah dan mendapat hukuman guru.
b. Kurang
cakap saat bermain olahraga.
c. Kurang
cakap dalam pembelajaran di sekolah.
d. Nilai-nilai
ujian di sekolah tidak bagus.
e. Sering
ceroboh dalam melakukan sesuatu.
f. Sering
diejek dan diremehkan oleh teman-temannya.
Dalam film “Stand By Me Doraemon”
pemeran Nobita mengalami semua tahapan untuk mencapai adiksi sesuai teori dari
Trashman.
1.
Tahap Perubahan Internal
Tahap pertama ditandai
pada saat kejadian:
a.
Saat awal bertemu dengan Nobita,
Doraemon mengeluarkan “baling-baling bambu” untuk Nobita. Meskipun pada awalnya
sempat kesusahan tetapi akhirnya Nobita bisa menggunakan alat itu. Dengan
baling-baling bamboo, Nobita terbang dan bermain bebas di langit Tokyo pada
malam hari sampai melihat Sizuka yang sedang tertidur di rumahnya.
b.
Pada saat Nobita terlambat pergi ke
sekolah, Doraemon mengeluarkan alat “pintu kemana saja” sehingga dapat membantu
Nobita. Dari depan rumahnya Nobita bisa langsung sampai ke gedung sekolah tanpa
terlambat.
c.
Doraemon memberikan roti yang bernama “Anki
Pan”. Dengan memakan roti tersebut, Nobita menjadi mudah mengingat semua materi
dan dapat menyelesaikan ujian di
sekolah.
Hasil analisa
Pada tahap
pertama ditandai dengan Nobita yang merasakan ada bantuan yang datang dari
Doraemon pada saat mengalami kesulitan. Doraemon selalu membantu Nobita yang
sedang kesusahan pada hari-hari saat pertama mereka berkenalan. Dari kejadian
itu Nobita mulai menyadari adanya sosok yang dapat dia andalkan saat sedang
mengalami masalah. Dari data tersebut Nobita sebagai seorang individu mulai
menyadari adanya perubahan mood ketika individu tersebut terlibat dengan sumber
adiksi yaitu Doraemon. Nobita merasa ada yang berbeda dalam hidupnya setelah
kedatangan Doraemon.
2. Tahap
Perubahan Gaya Hidup
Tahap kedua ditandai
pada saat kejadian:
a. Nobita
memecahkan vas bunga di kelas kemudian dilaporkan oleh Suneo temannya. Nobita
kemudian merengek dan memanggil Doraemon. Doraemon kemudian memberikan “sapu
tangan waktu”. Dengan di tutup dengan sapu tangan tersebut, vas bunga yang
pecah dapat kembali lagi menjadi vas bunga yang utuh.
b. Nobita
dijahili dan dipukul oleh Giant teman sekelasnya. Nobita tidak bisa membalas
dan meminta pertolongan kepada Doraemon. Doraemon pun memberikan “mantel tak
terlihat” kepada Nobita. Setelah Nobita memakainya dia menjadi tidak terlihat
siapapun. Dengan mantel itu Nobita bisa membalas memukul Giant tanpa diketahui.
c. Saat
disuruh membersihkan rumah dan mencabuti rumput di halaman, Doraemon memberikan
sebuah alat yang dinamakan “speedwinder”. Dengan alat itu, kecepatan Nobita
dalam membersihkan rumah dan mencabuti rumput di halaman menjadi sangat cepat.
Pekerjaanya pun menjadi cepat selesai.
Hasil analisa
Dalam
tahap ini ditandai dengan kehidupan Nobita yang tidak bisa lepas dari Doraemon.
Nobita yang sebenarnya menyadari merupakan anak yang tidak cakap dalam segala
hal sangat senang dengan bantuan yang datang dari Doraemon. Saat mengalami
kesusahan Nobita selalu memanggil dan merengek kepada Doraemon untuk membantu
memecahkan berbagai masalahnya. Dengan adanya Doraemon yang merupakan sosok
canggih masa depan dan mampu melakukan apa saja membuat Nobita tidak bisa
melepaskan Doraemon dari kehidupannya. Dari data tersebut dapat disimpulkan
terjadi danya perubahan gaya hidup dari Nobita. Sebagai contoh Nobita yang biasanya
sering terlambat, sering mendapat nilai jelek, sering dinakali temannya, dan
lain-lain mulai bisa berubah berkat bantuan dari Doraemon. Dalam tahap ini
Nobita sebagai seorang individu mulai membangun kehidupan disekitar sumber
adiksi dan mengatur kehidupannya di
sekitar sumber adiksi. Nobita mulai tergantung terhadap sumber adiksi yaitu
Doraemon.
3.
Tahap Rusaknya Kehidupan
Tahap ketiga ditandai
pada saat kejadian:
Pada saat Nobita
akan ditinggalkan oleh Doraemon ke masa depan. Nobita tidak mau berpisah dengan
Doraemon dan merasa hidupnya tidak berguna lagi. Hingga Doraemon pun memberi
semangat kepada Nobita agar dia bisa lepas dari ketergantungannya selama ini.
Akhirnya Doraemon kembali ke masa depan meninggalkan Nobita untuk selamanya.
Nobita tidak bisa menghilangkan ingatanya dan terus memikirkan Doraemon. Sampai
suatu ketika dia dibohongi oleh Giant jika Doraemon datang lagi, Nobita sangat
senang meski pada akhirnya dia tahu jika ia telah dibohongi. Nobita sangat
sedih dan menangis di kamar. Nobita ingin membalas ulah Giant meskipun tidak
bisa. Nobita merasa hidupnya tidak memiliki apa-apa lagi.
Hasil analisa
Pada tahap ini ditandai
dengan individu sulit mengendalikan perasaannya. Dalam konteks tersebut
Doraemon sebagai sumber ketergantungan harus kembali ke masa depan dan
meninggalkan Nobita. Nobita sebagai seorang individu sulit untuk mengendalikan
perasaanya. Dia benar-benar sedih sekaligus marah saat dibohongi Giant jika
Doraemon datang kembali. Karena ketergantungan yang begitu dalam akan Doraemon
membuat Nobita begitu sedih sampai akhirnya menangis dan ingin membalas ulah
Giant yang telah membohonginya.
Pada penjelasan mengenai ketergantungan ini ada
adegan yang menunjukkan adanya pembuktian yaitu ketika Nobita ingin membuktikan
pada Doraemon bahwa dia sanggup hidup tanpa bergantung pada Doraemon. Pembuktian
itu dilakukan dengan cara berkelahi melawan Giant di lapangan. Dia berkelahi
hingga Giant mengakui kalau Nobita sudah menang melawannya.
Nobita
: 僕の力だけの勝たないと、ドラえもんが安心して…帰れないんだ!!
“Bokuno
chikaradakeno katanaito, Doraemon ga anshinshite… kaerenainda!!”
Doraemon tidak akan merasa tenang
jika aku tidak bisa mengalahkanmu dengan kekuatanku sendiri!!
3 Kesimpulan
Secara
umum, bullying dapat diartikan
sebagai tindak kekerasan sebagai wujud perilaku agresi yang disebabkan oleh
penyimpangan psikologis dan bertujuan untuk menyudutkan objek penderitanya
secara emosional maupun fisik.
Ada
dua jenis pelaku bullying yang terdapat dalam film Stand By Me Doraemon, yaitu
Giant sebagai pelaku utama bullying dan Suneo sebagai pelaku pengikut bullying.
Korbannya selalu sama yaitu Nobita.
Perilaku
bullying yang terdapat dalam film
stand By Me Doraemon dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Kontak
fisik langsung, meliputi tindakan memukul, menendang, melempar yang dilakukan
oleh Giant.
2. Kontak
verbal langsung, meliputi tindakan mengancam, membuat nama panggilan, menyebar
kebohongan yang menyebabkan kesakitan secara fisik maupun emosional.
3. Kontak
non-verbal langsung, meliputi tindakan melihat dengan muka sinis dan mengejek.
Karakteristik
bullying yang dominan terjadi pada
pelaku bullying yaitu Giant dan Suneo adalah karena faktor keluarga. Orang tua
Giant yang sering memberi hukuman dengan kekerasan pada Giant membuat dia
melakukan hal yang sama seperti perilaku orang tuanya dan dilakukan terhadap
temannya sendiri. Suneo memiliki latar belakang ekonomi yang lebih kuat
daripada Nobita, sehingga dia mampu bersikap seenaknya dengan mengejek Nobita.
Bullying
tidak selalu berdampak negatif terhadap perkembangan karakter korban bully. Nobita yang selalu menjadi objek
penderita dalam film tersebut, ternyata dapat mengatasi masalah bullying itu tanpa ada rasa takut pergi
ke sekolah, tanpa rasa trauma. Nobita merasa percaya dirinya bertambah setelah
kedatangan Doraemon. Namun, justru karnanya dia merasa bergantung pada
Doraemon.
Ketergantungan
menurut Thomas disebabkan karena 4 keingingan “four wishes” :
a. Keinginan
untuk mendapatkan perlindungan (security)
b.
Keinginan akan pengalaman baru (new experience)
c.
Keinginan untuk mendapatkan respon (response)
d. Keinginan
untuk dikenal (recognation)
Tahap-tahap ketergantungan menurut Trashman antara
lain :
1. Tahap
perubahan internal
2. Tahap
perubahan gaya hidup
3. Tahap
rusaknya kehidupan
Dari dua hal di atas mengenai empat keinginan dan
tahap-tahap ketergantungan, kesemuanya selalu berhubungan dengan Doraemon. Nobita
tidak dapat lepas dari Doraemon. Bahkan saat Doraemon telah menyelesaikan
misinya membuat Nobita bahagia dan dia harus kembali ke masa depan, Nobita
merasa sangat sedih. Namun, Nobita menyadari bahwa dia tidak selamanya dapat
bergantung pada orang lain, karena itu Nobita memutuskan untuk membuktikan
kepada Doraemon bahwa dia bisa melawan Giant tanpa bantuan Doraemon.
Pembuktian yang dilakukan Nobita ini mengindikasikan
bahwa perilaku bullying yang
dilakukan orang lain dan ketergantungan dalam diri sendiri dapat diatasi oleh
keinginan kuat dalam diri sendiri untuk melawan, sehingga akan diperoleh
karakter baru bahwa seseorang yang lemah dapat menjadi kuat karena adanya tekad
yang kuat untuk berubah.
Daftar Pustaka
Ariesto, Asdrian. Pelaksanaan
Program Antibullying Teacher Empowerment. Thesis, Jakarta: Universitas
Indonesia, 2009.
Astuti, Ponny Retno. Meredam
Bullying (3 Cara Efektif Mengatasi Kekerasan pada Anak). Jakarta: PT
Gramedia Widiasarana Indonesia, 2008.
Jalaluddin, Haji. Pengertian Teori Rasa Ketergantungan (Sense of
Depend). Oktober 2014. http://www.pengertianpengertian.com (diakses 17
Juni, 2016).
Nugraha, Arie. Representasi Bullying Dalam Serial Film Kartun Doraemon.
Thesis, Jakarta: Universitas Indonesia, 2012.
Priyatna, Andri. Let's End Bullying : Memahami, Mencegah & Mengatasi
Bullying. Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2010.
Psychologymania. Definisi Bullying. Juni 2012.
http://www.psychologymania.com (diakses 21 Juni, 2016).
Sari, Serrly Purnama. Pengaruh Kesepian Terhadap Penggunaan Internet
yang Berlebihan. Juli September 2015. http://psychology.binus.ac.id
(diakses 19 Juni, 2016).

0 comments:
Post a Comment